Daerah  

Gunung Sampah Bantargebang, Bom Waktu Ekologis Akibat Gagapnya Pemerintah Mengelola Teknologi

Ketua PMII STIES Mitra Karya Bekasi, M. Dio Pramuza. [doc.klise]

KLISE, KOTA BEKASI – Gunung sampah yang terus menjulang di kawasan TPST Bantargebang kembali menjadi sorotan setelah terjadinya longsor di area tersebut. Peristiwa ini menegaskan bahwa pengelolaan sampah di kawasan tersebut masih jauh dari standar teknologi modern.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pemerintah belum mampu menghadirkan sistem pengolahan sampah yang aman, terintegrasi, dan berbasis teknologi.

Sebagai tempat pembuangan akhir (TPA) yang setiap hari menerima ribuan ton sampah dari Jakarta, Bantargebang seharusnya dilengkapi dengan teknologi pengolahan sampah yang memadai.

Namun yang terjadi justru penumpukan sampah secara terus-menerus hingga membentuk gunungan besar yang rentan longsor dan berpotensi menimbulkan bencana lingkungan.

Ketua PMII STIES Mitra Karya Bekasi, M. Dio Pramuza, menilai kondisi ini merupakan bukti bahwa pemerintah masih gagap dalam mengelola krisis sampah dengan pendekatan teknologi.

“Gunung sampah Bantargebang adalah bom waktu ekologis. Jika pengelolaannya terus dilakukan dengan cara konvensional tanpa inovasi teknologi yang serius, maka potensi bencana lingkungan akan terus mengancam masyarakat di sekitar kawasan tersebut,” tegasnya.

PMII STIES Mitra Karya Bekasi mendesak pemerintah untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengelolaan di Bantargebang, termasuk transparansi penggunaan anggaran persampahan serta percepatan penerapan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan agar kejadian serupa tidak terus berulang di masa depan.

Editor: Redaksi
Exit mobile version