“Kami terus berkoordinasi dengan BBWS untuk mitigasi, termasuk pengaturan aliran air agar dampak banjir dapat ditekan,” ujarnya.
Kepala BBWS Ciliwung-Cisadane, David Partonggo, memaparkan secara rinci dinamika tinggi muka air di wilayah hulu hingga hilir Sungai Bekasi. Menurutnya, kenaikan debit air di hulu Sungai Cilengsi terjadi pada pukul 15.30 WIB dengan TMA mencapai 190 sentimeter.
“Di jam 16.00 WIB sudah mulai turun menjadi TMA 170, dan di jam 16.30 penurunan terus berlanjut. Hingga pukul 23.00 WIB, TMA di hulu sudah kembali normal di angka 80,” jelas David.
Sementara itu, kenaikan signifikan terjadi di pertemuan Sungai Cikeas dan Cilengsi dengan puncak atau top level pada pukul 19.30 WIB.
“Top level di pertemuan Cikeas dan Cilengsi itu TMA-nya 470. Kondisi ini bertahan sekitar satu jam hingga pukul 20.30, lalu mulai turun kembali hingga pukul 23.00 dan seterusnya,” ungkapnya.
David memastikan bahwa kondisi di hulu saat ini telah menunjukkan tren penurunan yang konsisten. Hal tersebut turut berdampak pada aliran di wilayah Kota Bekasi.
“Di Bekasi sendiri, kondisinya berangsur turun. Namun karena sebelumnya ada pembuangan ke hilir, sempat terjadi kenaikan TMA di wilayah hilir,” katanya.
Untuk wilayah hilir Bendung Bekasi, David menyebut TMA di Polder Kalimati sempat berada di angka 530 sentimeter dan hingga saat ini masih terpantau tinggi. Sementara di hulu Polder Kalimati, TMA tercatat di angka 400 sentimeter yang berdampak pada aliran Sungai Rawalumbu.














