Opini  

Transformasi Spiritual Dalam Puasa, ‘Kesadaran, Kelembutan & Cinta’

Tapi bagi para pejalan Spiritual (Sufi) yang telah mencapai maqam (derajat) akhir dalam perjalanan spiritual, puasa itu bukan lagi berkisar dalam peperangan hati dari segala dosa-dosa batin, karena dengan melalui perjalanan suluk yang panjang, melintasi beberapa tangga-tangga ma’rifatullah, hati mereka menjadi bening, bersih dari noda-noda batin.

Selain bening hati mereka pun steril dari ancaman virus noda-noda batin. Sehingga puasa bagi pejalan Spiritual yang telah sampai pada sebuah Kesadaran Spiritual, adalah menahan hati dari musyahadah kepada selain Allah, dan dari mencita-citakan sesuatu selain Allah.

Bagi mereka tiada yang disembah, diinginkan, dicintai, dan dimaksud kecuali Allah. Sehingga jika terlintas dalam hati keinginan atau cita-cita selain Allah maka rusaklah puasa mereka. Salah satu kunci agar kualitas puasa kita mampu menghantarkan menjadi pribadi bertaqwa serta mampu menjadi spirit bagi kita untuk melakukan pendakian spiritual adalah cinta ilahiyyat (al-isyq al-ilahiyyat).

Ibadah ritual apapun jika niat awalnya adalah cinta , sesulit apapun akan terasa manis dan indah.

Nampaknya kita perlu mempertanyakan motivasi utama kita melakukan segala bentuk peribadatan maupun segala amal kebajikan yang selama ini kita lakukan. Sebagian dari kita mungkin berpuasa motivasinya ingin mendapat pahala, ingin masuk surga dan terhindar dari neraka, ingin sehat dan diet dengan berpuasa dan lain sebagainya.

Niat niat tersebut tidaklah keliru namun alangkah lebih baiknya dengan semakin dewasanya pemahaman keberagamaan kita, kita tingkatkan motivasi kita melakukan segala ritual dan aktivitas kebajikan apapun termasuk dalam hal ini berpuasa hanyalah realisasi dari kecintaan kita kepada sang Maha Kekasih yaitu Allah SWT. Dalam cinta tak ada paksaan, tak ada pamrih, tak ada hukuman dan ganjaran yang ada adalah kerinduan (al-‘isyq) mendalam untuk bertemu dan bersatu dengan sang kekasih.